Profil & Sejarah
Mengenal identitas, tujuan, dan perjalanan iman Sinode Kerukunan Gereja Masehi Protestan Indonesia.
Visi & Misi
Visi
KGMPI menuju Gereja yang Mandiri dan Misioner.
Misi
1. Menjadikan KGMPI Mandiri dalam Teologi, Sumber Daya,dan Dana
2. Meningkatkan Penginjilan KGMPI Secara optimal dan berkesinambungan.
3. Melaksanakan Pelayanan Pastoral dan pendidikan warga gereja sebagai dasar pemeliharaan iman jemaat KGMPI.
4. Memberdayakan Jemaat KGMPI didalam peningkatan sumber daya manusia dan ekonomi.
5. Menjadikan warga KGMPI sadar hukum dan menjunjung tinggi keadilan bagi semua orang.
6. Menjadikan warga KGMPI peduli terhadap Lingkungan Hidup serta mendukung pengembangan budaya lokal.
7. KGMPI yang menjujung tinggi keadilan bagi semua orang
8. KGMPI yang mendukung pengembangan Budaya lokal
9. KGMPI yang mendukung program pemerintah serta Turut aktif dalam kegiatan Sosial Kemasyarakatan
Sejarah
Sejarah Singkat
Sejarah KGMPI dapat dikatakan melalui beberapa fase :
1. RAPRI (Sangihe, 31 Oktober 1949)
Setelah 2 tahun berdirinya Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST), ada sekelompok warga jemaat di Tamako Kab. Sangihe Talaud merasa terabaikan dalam pelayanan disebabkan oleh pola kepemimpinan yang tak dapat diterima. Dibawah pimpinanan Pdt. D. Mende dan Pdt. Z. Manansang, pada tahun 1949, sekolompok warga jemaat ini memisahkan diri dari GMIST dan mendirikan satu denominasi gereja yang baru dengan nama Rukun Agama Protestan Asali Tamako (RAPAT) dengan kantor pusatnya di Kec. Tamako. Kehadiran gereja RAPAT yang awalnya hanya di Tamako kemudian berkembang di kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Sangihe dan Talaud bahkan sampai ke Jakarta, sehingga nama RAPAT dipandang tidak lagi relevan dibandingkan dengan ruang lingkup pelayanannya. Akhirnya dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama nama itu diganti dengan nama yang baru yaitu Rukun Agama Protestan Indonesia yang disingkat dengan RAPRI.
2. GMPI (Manado, 1965)
Di Manado ada sekelompok warga gereja merasa diperlakukan secara diskriminasi dalam pelayanan, Mereka dianggap sebagai kelompok orang yang mempunyai tingkat pendidikan sangat rendah (jika tidak mau dikatakan tidak berpendidikan) dan sebagai pekerja kasar sehingga pelayanan bagi mereka cukup sekali-sekali saja dibandingkan dengan warga jemaat yang lain. Disamping itu mereka dipandang tidak layak untuk dilibatkan dalam pelayanan. Menyadari akan realita tersebut, pada tahun 1965 kelompok warga jemaat ini di bawah pimpinan Pdt. Paulus Maluegha memisahkan diri dari gereja asal dan mendirikan denominasi gereja yang baru dengan nama Gereja masehi Protestan Indonesia (GMPI).
3. GMPI Yayasan RAPRI (Manado, 1975)
tahun 1972 pada suatu pertemuan gereja-gereja di Jakarta terjadilah percakapan antara pimpinan RAPRI dan GMPI. Dalam percakapan tersebut ternyata antara kedua lembaga gerejawi ini memiliki banyak kesamaan antara lain: Visi, Misi, teologi, Pemerintahan Gereja, maka bersepakat untuk meleburkan kedua lembaga gerejawi ini menjadi satu dalam percakapan yang lebih dalam dan resmi. Sebagai realisasi pertemuan di Jakarta maka pada tahun 1975 di Manado tepatnya di Bahu dilakukan pertemuan kedua dalam skala yang lebih besar. Dalam pertemuan ini disepakati kedua lembaga gerejawi ini dileburkan menjadi satu dengan beberapa aturan mainnya. Nama yang baru adalah GMPI Yayasan RAPRI. Dengan kesepakatan GMPI melaksanakan pelayanan Pemberitaan Injil sedangkan RAPRI dengan Yayasannya melaksanakan pelayanan Diakonia. Selain itu ditetapkan tahun 1975 sebagai Sidang Raya I dan tanggal 8 Desember 1975 dinyatakan sebagai tanggal berdirinya GMPI Yayasan RAPRI.
4. KGMPI (Sangihe, 1980)
Setelah tahun 1975 maka GMPI Yayasan RAPRI mengadakan konsulidasi Organisasi untuk melanjutkan pelayanan sebagamana Amanat yang tidak dapat diabaikan dalam kehidupan bergereja.
Sejarah baru kembali tercetus melalui Sidang Raya ke II tahun 1980 di Jemaat “KALVARI” Talengen, dimana para pemimpin GMPI Yayasan RAPRI bersepakat memberi nama baru bagi lembaga Gereja ini, yaitu Kerukunan Gereja Masehi Protestan Indonesia yang disingkat KGMPI. Nama baru ini diambil dari nama GMPI dan RAPRI.
Ketua-Ketua Sinode KGMPI
1. Pdt. Paulus Maluegha (Tahun 1975-1981)
2. Pnt. Samuel Lihiang (Tahun 1981-1985)
3. Pdt. Sumarsandhi (Tahun 1985-1990)
4. Pdt. Celmus M. Kantale, S.Th (Tahun 1990-2015)
5. Pdt. Tonny T. Manoppo, S.Th (Tahun 2015-2018)
6. Pdt. Djadwiko Loke, S.Th (Tahun 2018 – 2025)
7. Pdt. Agabus Salawe, M.Th (2025)